News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

11 Maret supersemar ; misteri 50 tahun lalu Sebelum Supersemar, Dua Entrepreneur Rayu Soekarno

11 Maret supersemar ; misteri 50 tahun lalu Sebelum Supersemar, Dua Entrepreneur Rayu Soekarno

11 Maret supersemar ; misteri 50 tahun lalu Sebelum Supersemar, Dua Entrepreneur Rayu Soekarno

S P C E.com : Sampai kini, transisi kekuasaan dari Presiden Soekarno pada Soeharto dikira berjalan mulai sejak 11 Maret 1966, yang ditandai penyerahan Surat Perintah 11 Maret atau Supersemar. Tetapi, sebelumnya Supersemar diserahkan oleh Soekarno pada Soeharto lewat Mayjen Basoeki Rachmat, Brigjen M Juiceuf serta Brigjen Amirmachmud di Istana Bogor, telah ada usaha untuk membujuk Soekarno supaya ingin menyerahkan kekuasaannya. 

Bujukan itu datang dari dua entrepreneur yang juga dikatakan sebagai orang dekat Soekarno, Hasjim Ning serta Dasaad. Narasi ini tersingkap dalam biografi Hasjim Ning yang ditulis AA Navis dengan judul Gunakan Surut Entrepreneur Pejuang. Otobiografi Hasjim Ning (1987), dan buku otobiografi Alamsjah Ratu Prawiranegara, Perjalanan Hidup Seseorang Anak Yatim (1995). 

Bujukan orang dekat 

Menurut Alamsjah Ratu Prawiranegara, sebelumnya kemunculan Supersemar, dia yang waktu itu menjabat Asisten VII Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad) Soeharto, mengusulkan untuk kirim Dasaad serta Hasjim Ning. Ke-2 entrepreneur itu disuruh membujuk Soekarno supaya membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) serta menyerahkan mandatnya pada Soeharto. Pertemuan dimaksud berjalan 6 Maret 1966. 

Mereka berdua dikira sebagai sosok yang diakui oleh Soekarno. Karena sangat dekat serta percayanya, kata Alamsjah dalam otobiografinya, Dassad bisa bebas keluar-masuk kamar Soekarno. 

" Alamsyah tahu benar siapapun beberapa orang yang dekat dengan Soekarno. Untuk membujuk butuh menggunakan beberapa orang yang dekat dengan Soekarno, " tutur sejarawan Instansi Pengetahuan Pengetahuan Indonesia, Asvi Warman Adam

Alamsjah berjumpa Dasaad serta Hasjim dirumah Dasaad, Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta. Saat itu, Alamsjah bercerita kalau negara dalam kondisi gawat. menurutnya, Soekarno tidak penuhi tuntutan untuk membubarkan kabinet namun jadi perbanyak menteri, tidak turunkan harga tetapi turunkan nilai duit, serta tak membubarkan PKI. 

Oleh karenanya, Alamsjah memohon Dasaad serta Hasjim menjumpai Presiden Soekarno di Istana Bogor. Mereka disuruh memberikan keyakinan Soekarno kalau Letjen Soeharto sudah menunjukkan kemampuannya mengatur kondisi. 

" Jenderal Soeharto bakal dapat melakukan penertiban dengan selesai, jika Presiden Soekarno ingin melimpakan kekuasaannya, " kata Alamsjah, diambil dari otobiografi Hasjim Ning. 

Tetapi, otobiografi Hasjim Ning menyebutkan kalau pertemuan itu berjalan 10 Maret 1966. Hal semacam ini tidak sama dengan versus Alamsjah yang menyebutkan pertemuan itu dikerjakan pada 6 Maret 1966, Hasjim Ning serta Dasaad sepakat. Tetapi, ada catatan, mereka membujuk Soekarno untuk menyerahkan pemerintahan, bukanlah melimpahkan kekuasaan. 

Mereka dibekali surat info dari Menpangad Letjen Soeharto yang menyebutkan sebagai penghubung pada Menpangad dengan Presiden Soekarno. Setibanya di Bogor serta bicara dengan Soekarno, mereka menyampaikan tentang penyerahan kekuasaan. 

" Ke-2 orang itu membawa surat dari Soeharto. Dengan berbekal surat dari Soeharto, Mereka datang ke Bogor serta memohon agar Soekarno tetaplah Presiden, namun masalah pemerintahan keseharian diserahkan pada Soeharto, " kata Asvi. 

Menurut pembicaraan Asvi, Hasjim berkata pada Soekarno, " Menteri-menteri Ayah tak melakukan tugasnya lagi. Keluar rumah juga mereka tidak. Hingga, Ayah sekalipun tidak terbantu. Cuma seseorang yang berperan serta dapat melakukan tugasnya, yaitu Jenderal Soeharto. " 

" Ah, anda bicara seenaknya saja, " kata Soekarno. 

" Saya tahu itu Soeharto menyuruh Sarwo Edhie memimpin mahasiswa untuk demonstrasi. Harusnya dia larang itu demonstrasi. " Bukan sekedar itu, Soekarno juga menyimpan berprasangka buruk, " Apa anda diminta Soeharto datang kesini? " Saat itu keduanya belum menyerahkan surat dari Menpangad. 

Hasjim berkilah, tetapi dia membulatkan tekad menyebutkan, " Bila Ayah menyerahkan pimpinan pemerintahan pada Jenderal Soeharto, Ayah bakal tetaplah ada di tengah-tengah rakyat yang menyukai Ayah. " 

Usul itu juga tidak diterima Presiden Soekarno. 

Soekarno Melempar Asbak 

Menurut pembicaraan Asvi, mengutip dari buku biografi Alamsjah, Soekarno pernah geram hingga melempar asbak pada Hasjim.  

Waktu itu Soekarno membentak, " Anda juga telah pro-Soeharto. " 

" Soekarno begitu geram saat itu, serta menurut Hasjim Ning, Soekarno pernah melemparkan asbak ke dianya. proses itu dikisahkan dalam biografi Hasjim Ning serta Alamsyah, meskipun mereka memberi tanggal yang tidak sama, " ucap Asvi. 

Usaha membujuk Soekarno, seperti disadari Hasjim Ning serta Alamsjah Ratu Perwiranegara, tidak berhasil. Lalu, terjadi momen pada 11 Maret 1966. Waktu itu, tiga jenderal mendatangi Soekarno di Istana Bogor. 

Soeharto kirim pejabat Angkatan Darat, yakni Mayjen Basuki Rachmat, Brigjen Muhammad Juiceuf, serta Brigjen Amirmachmud, pada 11 Maret 1966.  Ketiga jenderal itu memohon Soekarno keluarkan surat perintah yang lalu di kenal sebagai Supersemar. 

Dengan Supersemar, Soeharto menggerakkan kekuasaannya jauh dari sebatas menangani kondisi. Satu hari sesudah terima Supersemar, Soeharto segera membubarkan Partai Komunis Indonesia. Walau sebenarnya, seperti ditegaskan Soekarno dalam pidato 17 Agustus 1966, Supersemar bukanlah surat transfer of authority (pengalihan kekuasaan). Supersemar cuma surat perintah pengamanan. 

" Bila lihat rangkaian momen sebelumnya 11 Maret, berarti telah ada usaha membujuk lewat beberapa orang paling dekat Soekarno. Lantaran tidak berhasil, dicoba lebih keras lagi lewat demonstrasi dari mahasiswa serta tentara, lalu kirim tiga jenderal, " papar Asvi. 

Tak direncanakan 

Menurut Asvi, pertemuan sebelumnya 11 Maret 1966 itu tunjukkan ada momen yg tidak spontan, tetapi direncanakan serta penuh nuansa desakan. 

" Ada rangkaian aktivitas yang dikerjakan oleh Soeharto. Semuanya tak ada di buku histori. Bukanlah melemahkan lagi, namun menghabisi kekuasaan Soekarno, " ucap Asvi. 

Walau demikian, mengutip arsip terbitan 31 Maret 1982, Amirmachmud mengakui tidak paham menahu masalah momen pertemuan ke-2 entrepreneur itu dengan Soekarno.  Menurut Amirmachmud, Supersemar tak pernah direncanakan, disusun rencananya, atau didiskusikan lebih dahulu. 

" Karenanya saya senantiasa menyampaikan, SP 11 Maret yaitu pemberian Tuhan yang menyukai bangsa Indonesia, " kata Amirmachmud yang waktu itu menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri. Sedang dalam buku Jenderal M Juiceuf, Panglima Beberapa Prajurit (2006), Juiceuf mengakui kalau Hasjim Ning pernah bercerita pertemuan itu. Tetapi, Juiceuf tidak ingin menceritakan lebih jauh tentang pertemuan itu.
Baca Artikel Berikutnya

Tags

Langganan Artikel

Temukan Tips dan Berita menarik setiap harinya. GRATIS!